SUKABANTEN.com – Kasepuhan adat Cisungsang, sebuah komunitas adat yang terletak di Kabupaten Lebak, akan melaksanakan Ritual Seren Taun 2025 pada lepas 22 September. Sebagai sebuah acara tahunan yang dinanti-nantikan, Seren Taun merupakan ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Acara ini juga berfungsi sebagai doa memohon berkah buat musim tanam yang akan datang, serta penanda pergantian tahun dalam kalender pertanian Sunda Buhun. Bagi masyarakat Cisungsang, tradisi ini tidak sekadar seremoni, melainkan sebuah perjalanan budaya dan spiritual yang mendalam.
Arti dan Tradisi Seren Taun
Seren Taun mempunyai nilai yang sangat mendalam bagi masyarakat adat Cisungsang. Tradisi ini mengakar kuat dalam kebiasaan masyarakat Sunda Buhun yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Tidak hanya sekedar seremoni, Seren Taun adalah momen di mana semua elemen masyarakat berkumpul, berbagi cerita dan mengenang leluhur. Tradisi ini berperan krusial dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai kebudayaan leluhur yang telah ada sejak zaman dahulu kala.
“Ritual ini adalah cara kami menghormati alam dan hasil bumi yang telah diberikan kepada kita,” kata seorang tokoh masyarakat adat Cisungsang. Dalam acara tersebut, biasanya dilakukan prosesi padi yang diarak dari lumbung masyarakat menuju loka upacara. Dalam perjalanan ini, terdapat rangkaian doa dan puji-pujian yang dipanjatkan agar hasil bumi selalu melimpah dan kehidupan masyarakat selalu sejahtera.
Pengaruh Seren Taun Terhadap Generasi Muda
Selain itu, Seren Taun juga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap generasi muda di Cisungsang. Tradisi ini menjadi sarana pendidikan budaya yang efektif, di mana generasi muda diperkenalkan secara langsung pada adat istiadat dan nilai-nilai leluhur. Dengan terlibat langsung dalam persiapan dan pelaksanaan ritual, mereka mendapatkan pelajaran berharga tentang pentingnya menghargai warisan budaya. Bahkan, banyak diantaranya yang mulai menyadari pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan dan inspirasi, berkat keterlibatan mereka dalam acara ini.
“Bagi kami, ini adalah ketika yang tepat untuk belajar dari para tetua dan memahami nilai-nilai yang mungkin tidak kami dapatkan dalam pendidikan legal,” ujar seorang pemuda Cisungsang. Ini menunjukkan bahwa Seren Taun bukan cuma sekadar ritual, namun juga sarana pembelajaran yang mengaitkan antara tradisi dan kehidupan modern, sehingga generasi muda tak merasa terasing dari akar budaya mereka sendiri.
Lebih dari sekadar tradisi, Seren Taun adalah manifestasi dari solidaritas komunitas, di mana rasa kebersamaan dan gotong royong menjadi fondasi yang memperkuat identitas masyarakat adat Cisungsang. Sembari berharap acara ini dapat lanjut dilestarikan, masyarakat Cisungsang percaya bahwa kekayaan tradisi dan kebudayaan mereka dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain, bagus di dalam maupun luar negeri. Ritual yang sarat dengan keindahan dan makna ini adalah harta yang perlu dirawat dan dilestarikan, sebagai porsi dari khazanah kebudayaan nasional.



