SUKABANTEN.com – Dalam kehidupan saya, ada dua tokoh Tionghoa yang sangat populer dan masih mempertahankan nama asli mereka: Kwik Kian Gie dan Goh Tjing Hok. Nama pertama sudah tak asing tengah di telinga kita, yaitu seorang ekonom dan politikus yang baru saja berpulang pada hari Senin lalu dalam usia 90 tahun. Nama kedua adalah seorang wartawan berpengalaman yang mati lebih dari tiga dekade silam pada usia 71 tahun. Mereka berdua meninggalkan warisan berupa prinsip kuat dalam kehidupan serta kerja keras yang patut menjadi teladan bagi kita seluruh.
Kwik Kian Gie: Antara Ekonomi dan Keberanian
Kwik Kian Gie adalah salah satu misalnya inspiratif tentang bagaimana nama dan identitas dapat menjadi simbol kebanggaan. Meskipun banyak Tionghoa di Indonesia yang mengganti nama mereka agar tampak lebih “nasional”, Kwik memilih untuk masih mempertahankan nama aslinya. Sepanjang karirnya, Kwik dikenal sebagai ekonom ulung yang tak ragu menyuarakan opininya, bahkan kalau hal itu mungkin tak sejalan dengan pandangan pemerintah. “Saya selalu yakin bahwa kejujuran dan integritas adalah segalanya,” kata Kwik dalam salah satu wawancaranya. Keberanian dan konsistensinya dalam menyuarakan kebenaran membuatnya dihormati oleh banyak manusia.
Tak cuma sebagai ekonom, Kwik juga terjun ke internasional politik. Sebagai seorang menteri di era reformasi, ia memperlihatkan betapa pentingnya kepemimpinan yang berintegritas dalam membangun bangsa. Kwik selalu menyantap pengelolaan ekonomi dengan langkah yang berbeda, mencari solusi yang lebih fundamental daripada solusi jangka pendek. Keberaniannya buat berbeda pandangan telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemikiran ekonomi di Indonesia, terutama pada masa transisi politik dan ekonomi pasca-Orde Baru.
Goh Tjing Hok: Wartawan dengan Dedikasi Tinggi
Berbeda dengan Kwik yang terjun dalam politik, Goh Tjing Hok lebih dikenal dalam dunia jurnalistik. Goh meniti kariernya sebagai wartawan dengan dedikasi dan integritas yang tinggi. Meskipun jurnalisme pada masanya sering kali diwarnai dengan berbagai tekanan politik, Goh tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk menyajikan warta yang rasional dan mendalam. “Seorang wartawan harus menjadi saksi sejarah yang mencatat tanpa menambah dan mengurang,” demikian ia pernah mengungkapkan pandangannya tentang profesi seorang wartawan.
Goh Tjing Hok tak cuma dikenal sebab keterampilannya dalam menulis, namun juga sebab perannya dalam mendidik generasi baru wartawan. Banyak jurnalis muda yang menimba ilmu dan pengalaman darinya. Keuletan dan ketelitian dalam mengolah berita yang ditunjukkan oleh Goh telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia jurnalistik. Seperti halnya Kwik, Goh juga memilih untuk mempertahankan nama orisinil, sebagai wujud penghargaannya terhadap akar budayanya.
Warisan yang ditinggalkan oleh kedua tokoh ini, Kwik Kian Gie dan Goh Tjing Hok, tidak cuma terletak pada karya dan pendapat mereka, tetapi juga pada prinsip kuat yang mereka pegang sepanjang hayati. Mereka membuktikan bahwa identitas dan kesetiaan pada akar budaya tidak menjadi penghalang untuk mencapai kesuksesan. Justru, hal itu menjadi kekuatan yang mengarahkan mereka menjadi pribadi yang dihormati dan dikenang oleh banyak orang. Dalam internasional yang lanjut berubah, kisah hidup dan prinsip Kwik dan Goh adalah pengingat bagi kita bahwa keberanian buat menjadi diri sendiri dan berpegang kukuh pada integritas adalah kunci menuju kehidupan yang memuaskan dan bermakna.



