SUKABANTEN.com – Kabupaten Pandeglang mengalami peningkatan signifikan dalam volume produksi sampah selama bulan Ramadan 2026. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang mencatat adanya kenaikan hingga 34 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa. Menurut Winarno, Sekretaris DLH Pandeglang, lonjakan ini terlihat dari bertambahnya jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bangkonol setiap harinya. “Selama Ramadan ini memang terjadi peningkatan,” ujarnya.
Lonjakan Sampah di TPA Bangkonol
TPA Bangkonol menerima sampah yang lebih banyak dari biasanya selama bulan puasa ini. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktivitas masyarakat, khususnya yang terkait dengan konsumsi makanan yang meningkat selama Ramadan. Norma berbuka puasa dan sahur yang lebih meriah daripada hari biasa turut menyumbang terhadap peningkatan sampah domestik. Selain itu, kegiatan berbagi makanan dan acara kumpul berbarengan di berbagai tempat juga menyumbang terhadap volume sampah yang dihasilkan setiap harinya.
“Hampir setiap sore hingga malam, volume sampah meningkat, terutama sisa makanan dan kemasan plastik dari berbagai aktivitas Ramadan,” jelas Winarno. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi DLH Pandeglang dalam pengelolaan sampah yang efektif selama periode Ramadan yang tergolong singkat namun padat kegiatan tersebut.
Tantangan Pengelolaan Sampah
Dengan adanya kenaikan volume sampah, DLH Pandeglang dihadapkan pada tantangan akbar dalam mengelola sampah secara efektif dan efisien. Pengelolaan sampah yang jelek dapat menimbulkan masalah lingkungan yang lebih besar, termasuk pencemaran tanah dan air, serta menumpuknya limbah yang sulit terurai. Oleh sebab itu, DLH berupaya menaikkan kapasitas pengangkutan sampah dengan menambah armada pengangkutan dan memperpanjang jam operasional di TPA Bangkonol.
“Koordinasi dengan pihak pengelola sampah di taraf kelurahan dan masyarakat sangat krusial agar tak terjadi penumpukan sampah di jalan-jalan dan zona publik,” tambah Winarno. DLH juga mengingatkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengurangan produksi sampah dengan langkah memilah sampah sejak dari rumah dan mengoptimalkan penggunaan barang-barang yang dapat digunakan berulang kali.
Peningkatan sinergi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi masalah sampah di Kabupaten Pandeglang, khususnya selama bulan Ramadan yang sering mengalami lonjakan seperti ini. Upaya edukasi dan kampanye mengenai pengurangan sampah plastik dan peningkatan daur ulang juga lagi digenjot buat menciptakan kesadaran publik yang lebih baik terhadap isu pengelolaan sampah.
Sebagai kesimpulan, Ramadan memang menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan sampah di Kabupaten Pandeglang. Tetapi, dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, serta penerapan strategi pengelolaan yang pas, diharapkan masalah ini dapat diatasi dengan baik.



