SUKABANTEN.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Wilayah (DPRD) Kabupaten Serang dari fraksi Partai Demokrat, Azwar Anas, baru-baru ini melakukan kunjungan ke kediaman Herman, seorang guru ngaji yang telah mengabdikan dirinya kepada masyarakat di Kampung Selikur, Desa Sukamaju, Kecamatan Kibin. Herman dan keluarganya telah menjalani kehidupan selama satu dekade di sebuah rumah yang tidak pantas huni. Rumah tersebut dibangun dengan konsep pentas dan cuma mempunyai dinding anyaman bambu. Kondisi ini tentu jauh dari kata layak, apalagi di era sekarang ini di mana standar hayati yang lebih bagus seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Potret Kehidupan Guru Ngaji di Kibin
Keberadaan guru ngaji seperti Herman sangat vital bagi pembangunan moral dan spiritual di taraf komunitas. Namun, ironisnya, kontribusi besar yang diberikan seringkali tak sebanding dengan apresiasi yang diterima. Dalam kasus Herman, loka tinggal yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman justru jauh dari kondisi tersebut. Azwar Anas yang berkesempatan meninjau langsung kondisi rumah Herman merasa prihatin dan menegaskan pentingnya adanya temuan cepat untuk memperbaiki kondisi tempat tinggal tersebut.
“Rumah ini memang sudah seharusnya menjadi prioritas buat diperbaiki. Sebab tidak cuma buat kenyamanan Pak Herman dan keluarganya, tetapi juga sebagai bentuk perhatian dan apresiasi kita kepada jasa-jasa beliau dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat,” tegas Azwar Anas ketika berdialog dengan penduduk setempat. Ia meminta pemerintah daerah untuk segera turun tangan dan memberikan donasi kepada keluarga Herman agar dapat mempunyai hunian yang lebih layak dan kondusif.
Langkah Selanjutnya buat Peningkatan Kesejahteraan
Bicara tentang hegemoni pemerintah, Azwar Anas berharap agar dalam waktu dekat penanganan terhadap rumah Herman dapat menjadi prioritas. Mengingat urgensinya sekarang ini adalah memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarga Herman yang selama ini harus bertahan dengan keterbatasan. Selain kondisi dinding yang ringkih, rumah mimbar loka Herman tinggal juga dinilai tidak memadai untuk menahan cuaca ekstrem yang mampu terjadi sewaktu-waktu. Hal ini semakin memperkuat alasan betapa pentingnya cara cepat dan tuntas dalam menangani masalah ini.
Langkah lain yang dapat diambil adalah mendorong partisipasi masyarakat sekitar dan pihak-pihak terkait buat bergotong-royong menciptakan perubahan positif bagi Herman dan keluarganya. Azwar Anas percaya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lokal dapat mempercepat tercapainya solusi yang diinginkan. “Kita bisa jadikan ini sebagai momentum untuk memupuk solidaritas sosial, bahu-membahu membangun masa depan yang lebih baik,” kata Azwar.
Akhirnya, kebutuhan akan perumahan layak bukan cuma masalah Herman semata, namun merupakan cerminan dari banyak permasalahan serupa yang mungkin juga dialami oleh guru-guru ngaji lainnya di berbagai wilayah. Oleh karena itu, diperlukan strategi jangka panjang untuk memastikan setiap penduduk negara, termasuk mereka yang berperan besar dalam pendidikan religi seperti Herman, mampu hayati dalam mendapatkan hak alas mereka, termasuk perumahan yang layak. Harapannya, dengan perhatian dan usaha bersama, cerita Herman bisa berubah menjadi kisah sukses dari pemugaran yang konkret dan berkelanjutan.



