SUKABANTEN.com – Dalam acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-41 Kabupaten Lebak tahun 2025, Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, menyampaikan permintaan pentingnya netralitas para Dewan Hakim yang terlibat dalam evaluasi lomba. Penegasan tersebut diungkapkan saat pembukaan acara tersebut yang dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat dan para peserta lomba dari berbagai wilayah. Amir Hamzah menegaskan pentingnya menjaga integritas dan keadilan dalam penyelenggaraan MTQ demi memupuk kepercayaan masyarakat terhadap hasil kompetisi.
Pentingnya Netralitas dalam Evaluasi
Netralitas dalam penilaian di ajang MTQ sangatlah penting. Amir Hamzah menyampaikan, “Netralitas Dewan Hakim adalah kunci buat mendapatkan hasil yang benar-benar mencerminkan kemampuan peserta.” Ia menambahkan, bahwa dengan bersikap adil dan objektif, Dewan Hakim dapat memberikan dorongan positif bagi para peserta buat tampil secara maksimal dan memberikan yang terbaik. Kegiatan MTQ sendiri bukan cuma mengenai siapa yang menang, namun juga sebagai wujud pembinaan dan apresiasi terhadap generasi muda yang mempelajari dan menghayati nilai-nilai religi.
Dalam konteks ini, tantangan yang dihadapi oleh Dewan Hakim adalah memastikan bahwa mereka tak terpengaruh oleh unsur eksternal apapun yang dapat mengaburkan evaluasi mereka. Netralitas dalam setiap aspek evaluasi termasuk kemampuan membaca, tajwid, serta penghayatan dan kefasihan peserta adalah hal yang harus dijaga. Amir Hamzah juga mengingatkan, “MTQ adalah loka buat berkompetisi secara sehat, dan kita harus memastikan bahwa semua peserta merasa bahwa mereka diperlakukan dengan adil.”
Peran MTQ dalam Pembinaan Generasi Muda
MTQ bukan sekadar ajang kompetisi membaca Al-Quran. Lebih dari itu, MTQ memiliki peran krusial dalam pembinaan generasi muda. Melalui MTQ, generasi muda diajak untuk mendalami ajaran religi Islam dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi media buat mempererat tali silaturahmi antar wilayah dan sebagai forum untuk membangun pemahaman yang lebih dalam tentang keberagaman.
Amir Hamzah memandang bahwa MTQ dapat menjadi pendorong semangat bagi generasi muda buat terus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang Al-Quran. “Melalui MTQ ini, kita berharap generasi muda kita tidak hanya cerdik membaca Al-Quran, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Dalam momen seperti MTQ ini, diharapkan juga para peserta dan penikmat acara dapat mengambil inspirasi positif dan menerapkannya dalam masyarakat.
Demi mencapai tujuan-tujuan ini, pelaksanaan MTQ harus dilakukan dengan cermat dan penuh persiapan. Semua pihak terkait, mulai dari peserta, dewan juri, hingga panitia penyelenggara, harus saling bekerja sama buat menyukseskan acara ini. MTQ yang dilakukan dengan cara yang terorganisir dan adil akan melahirkan generasi yang kuat, tak cuma dalam segi penguasaan agama, namun juga dalam aspek moral dan sosial.
Oleh karena itu, mengajarkan netralitas dan keadilan sejak dini melalui ajang seperti MTQ adalah investasi jangka panjang bagi kualitas generasi penerus bangsa. Dengan begitu, generasi muda tak hanya mengenal Al-Quran sebagai buku bersih, tetapi juga sebagai pedoman hidup yang menuntun mereka menjadi pribadi yang lebih baik, adil, dan bijaksana dalam menghadapi dinamika kehidupan.




