SUKABANTEN.com – Di sebuah pojok diam di Tangerang, tepatnya di RT 04 RW 01 Desa Kayu Akbar, Kecamatan Sepatan, tampak penduduk bersatu padu mengambil sikap tegas melawan praktik perbankan yang dianggap merugikan masyarakat. Pada Senin 1 Desember 2025, suasana berubah menjadi lebih bergejolak dengan pemasangan spanduk penolakan yang menjadikan Gang Toge sebagai pusat perhatian. Warga menyuarakan penolakan mereka terhadap bank keliling dan praktik pinjaman dengan etnis bunga tinggi lainnya. Ketegasan sikap penduduk ini semakin ditegaskan melalui spanduk yang menjulang di sudut-sudut strategis desa tersebut, yang memuat embargo tegas bagi bank keliling, rentenir, serta lembaga pinjaman sejenis lainnya buat masuk dan beroperasi di lingkungan mereka.
Pencerahan Kolektif Akan Efek Negatif Bank Keliling
Langkah ini bukan tanpa dalih. Saat dikaji lebih dalam, banyak warga mulai memahami dan merasakan dampak negatif dari keberadaan bank keliling ini, yang selama ini mungkin tidak disadari oleh sebagian masyarakat. Warga sepakat bahwa hadirnya bank keliling dengan etnis bunga cicilan yang tinggi hanya akan menambah beban ekonomi mereka yang sudah berat. Bahkan ada cerita di antara mereka tentang bagaimana beberapa tetangga terpaksa menjual barang berharga mereka buat melunasi pinjaman berbiaya tinggi ini. “Kami tak mau lagi terjebak dengan iming-iming pinjaman cepat bayar kembang tinggi,” ungkap salah seorang warga yang tak ingin disebutkan namanya.
Ketidakpuasan ini semakin diperkuat dengan adanya pengamatan bahwa bank keliling seringkali menggunakan cara-cara penagihan yang dirasa memprihatinkan, hingga menimbulkan keresahan di kalangan warga. Ketakutan akan adanya tekanan psikologis dan fisik dari pihak bank keliling menjadi alas kuat di balik gerakan ini. Masyarakat, khususnya mereka yang rentan secara finansial, khawatir kalau mereka tidak dapat membayar pas saat, mereka akan kehilangan segalanya.
Solusi Alternatif buat Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi
Sebagai respon atas situasi ini, beberapa tokoh masyarakat berupaya memberikan solusi lain yang lebih konstruktif dan berkelanjutan. Satu di antaranya adalah menggalakkan kembali koperasi simpan pinjam yang dikelola secara lokal dan diawasi oleh penduduk setempat. Hal ini diyakini dapat menjadi jalan keluar bagi kebutuhan finansial penduduk tanpa menggantungkan diri pada forum yang menerapkan suku kembang tinggi.
Selain koperasi, warga juga didorong buat menaikkan literasi keuangan secara kolektif. Dengan pemahaman yang lebih bagus mengenai pengelolaan keuangan, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial, menghindari jebakan hutang dengan kembang besar, dan menemukan cara untuk mengembangkan ekonomi mereka secara berdikari. Edukasi ini diyakini merupakan kunci buat membebaskan masyarakat dari ketergantungan terhadap pinjaman tidak sehat.
Langkah ini bukan cuma sekedar aksi penolakan, tapi lebih kepada usaha membangun ketahanan ekonomi masyarakat. Kebangkitan semangat gotong royong dan kebersamaan di kalangan penduduk Kayu Agung, Sepatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain yang menghadapi masalah serupa. Warga menyadari, bahwa dengan bersatu mereka tidak cuma melindungi diri sendiri namun juga menciptakan masa depan yang lebih bagus bagi generasi selanjutnya.



