SUKABANTEN.com – Kondisi lampu hias di Alun-alun Pandeglang sudah bertahun-tahun wafat total tanpa perbaikan. Fenomena ini tentu saja sangat disayangkan oleh banyak pihak, mengingat Alun-alun adalah salah satu ikon penting yang semestinya merepresentasikan keindahan dan estetika kota. Pemerintah Wilayah, melalui Dinas Lingkungan Hayati (DLH) Pandeglang, akhirnya angkat bicara mengenai alasan mangkraknya fasilitas tersebut. Kondisi ini menyiratkan tantangan dalam pengelolaan infrastruktur kota yang sering kali terkendala oleh berbagai unsur, salah satunya adalah anggaran.
Unsur Keterbatasan Anggaran
Sekretaris DLH Pandeglang, Winarno, mengakui bahwa pemeliharaan lampu hias merupakan tanggung jawab instansinya. Namun, ia menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menjadi dalih utama mengapa perbaikan dianggap perlu dikesampingkan untuk waktu ini. “Memang khusus pemeliharaan lampu hias itu eksis di bawah tanggung jawab kita,” ujar Winarno. Ia menjelaskan bahwa anggaran yang tersedia lebih difokuskan pada pemeliharaan fasilitas dasar dan pelayanan yang lebih mendesak, yang berimplikasi langsung pada kesejahteraan penduduk.
Berdasarkan klarifikasi Winarno, alokasi anggaran bagi perbaikan lampu hias dianggap tak seprioritas perawatan infrastruktur lain yang bersifat lebih kritis dan mendesak. Dalam kondisi ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan, prioritas anggaran memang harus dipertimbangkan dengan sangat matang, apalagi saat sumber energi yang ada sangat terbatas. Hal ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak pemerintah wilayah dalam mengelola sumber energi dengan efektif.
Akibat Terhadap Pariwisata dan Estetika Kota
Lampu hias di Alun-alun Pandeglang semestinya menjadi energi tarik tersendiri bagi masyarakat lokal dan pelancong. Kegagalan dalam memelihara estetika ruang publik seperti alun-alun mampu berdampak negatif pada citra pariwisata kota. Para wisatawan tentu saja mengharapkan pengalaman yang menyenangkan dan panorama yang indah ketika mengunjungi landmark suatu daerah. Dengan kondisi lampu hias yang mati bertahun-tahun, kesempatan buat menaikkan kunjungan wisatawan pun menurun.
Ketidakmampuan buat memperbaiki fasilitas publik bukan hanya berdampak pada pariwisata, tetapi juga pada semangat kolektif masyarakat. Keindahan fasilitas publik mempunyai peran penting dalam menaikkan moral dan kebanggaan komunitas lokal terhadap kota mereka. Tanpa upaya konkret dalam menjaga dan mempercantik fasilitas tersebut, masyarakat mampu merasa bahwa pemerintah kurang memperhatikan kebutuhan mereka akan lingkungan yang estetik dan ramah tamah.
Sementara itu, Winarno juga mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berusaha mencari solusi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Usaha ini termasuk melibatkan komunitas lokal dan mencari pendanaan tambahan dari sumber-sumber eksternal. Dia menambahkan bahwa dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat akan sangat membantu dalam usaha memperbaiki situasi ini. Di masa depan, kerja sama antara pemerintah dan masyarakat diharapkan akan menghasilkan solusi berkelanjutan untuk menjaga dan meningkatkan penampilan Alun-alun Pandeglang yang menjadi kebanggaan seluruh pihak.


