SUKABANTEN.com – Ketua DPRD Kabupaten Lebak, Juwita Wulandari, menyampaikan keprihatinannya terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berpotensi tidak berjalan maksimal apabila tak diimbangi dengan menjaga kualitas menu yang disajikan. Program strategis yang menjadi porsi dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama dalam usaha pencegahan stunting pada anak-anak. Namun, Juwita mengingatkan bahwa tanpa perhatian serius terhadap kualitas dan keseimbangan gizi dalam menu, tujuan tersebut mungkin tak dapat tercapai. “Program ini akan sangat berdampak jika kita mampu memastikan penyajian makanan yang sesuai standar gizi,” ujar Juwita.
Kritik Terhadap Pelaksanaan Program
Juwita Wulandari menyoroti beberapa unsur yang bisa menghalangi keberhasilan program MBG, salah satunya adalah aspek supervisi terhadap kualitas menu yang disajikan. Menurut Juwita, supervisi ketat perlu dilakukan untuk memastikan bahwa makanan yang disediakan memang kaya akan nutrisi dan sinkron dengan kebutuhan gizi anak-anak. Selama ini, salah satu indikator keberhasilan program kesehatan pemerintah adalah tercapainya target pengurangan nomor stunting pada anak-anak di daerah tersebut. Tetapi, pencapaian ini bisa menjadi tantangan akbar jika menu makanan dalam program MBG disajikan secara asal tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisinya. Ia menambahkan, “Kami mendorong agar supervisi di lapangan ditingkatkan supaya tak terjadi kecurangan atau kelalaian yang bisa berakibat fatal bagi kesehatan anak-anak.”
Pentingnya Kolaborasi Antar Lembaga
Juwita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai lembaga terkait buat memastikan program MBG berjalan dengan bagus. Ia menyoroti bahwa sinergi antara pemerintah daerah, para penyedia makanan, dan masyarakat sangat esensial agar program ini berhasil menekan angka stunting. Dengan adanya kolaborasi yang solid, tantangan seperti distribusi makanan yang tidak merata atau bahkan infrastruktur yang kurang memadai dapat ditangani dengan lebih efektif. “Kerja sama lintas sektoral adalah kunci primer agar program ini bisa memberi manfaat yang seluas-luasnya,” ungkap Juwita. Selain itu, ia juga mendorong peningkatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang dan bagaimana cara mencapainya.
Lebih terus, menurut Juwita, edukasi kepada orang tua dan pendamping anak juga tak kalah krusial dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pola makan sehat. Dengan meningkatnya pengetahuan orang tua, diharapkan dapat mendukung tujuan dari program MBG serta meminimalisir kemungkinan kekurangan gizi pada anak. “Kita harus dinamis bersama-sama, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri jika mau efektif dalam mengurangi angka stunting,” tegasnya. Dukungan dari seluruh pihak menjadi fondasi krusial buat kesuksesan program ini dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.



