SUKABANTEN.com – Jumlah kasus gigitan fauna liar di Provinsi Banten dilaporkan meningkat setiap tahun. Menurut laporan terbaru dari Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, hingga bulan September 2025, jumlah kasus telah mencapai 766 laporan. Nomor ini menunjukkan peningkatan yang dikhawatirkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejalan dengan tren kenaikan ini, kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Distan Banten, drh. Ari Mardiana, menyoroti bahwa pada tahun 2024 saja, terdapat sebanyak 895 kasus gigitan fauna yang dicatat.
Taraf Risiko Kesehatan Masyarakat
Peningkatan kasus gigitan fauna liar menimbulkan kekhawatiran serius terkait risiko kesehatan masyarakat di Banten. Bahaya primer yang dihadapi oleh publik dari gigitan fauna liar adalah penyebaran penyakit rabies, sebuah penyakit viral yang mematikan jika tidak segera ditangani. Rabies dikenal karena dampaknya yang sangat parah terhadap sistem saraf manusia dan biasanya ditularkan melalui gigitan dari fauna yang terinfeksi. Distan Banten menyarankan masyarakat buat lebih waspada dan segera mendapatkan penanganan medis kalau tergigit oleh fauna liar, terutama anjing. “Rabies adalah ancaman konkret, dan kita tak boleh lengah terhadap bahaya yang mungkin datang dari gigitan fauna liar,” ujar drh. Ari Mardiana.
Masyarakat juga diimbau agar melaporkan kejadian gigitan hewan dengan segera dan tak berusaha mengobati luka sendiri tanpa petunjuk dari tenaga medis. Melalui cara dini dan pas, risiko infeksi dapat diminimalisir. Distan juga menghimbau agar masyarakat tak mudah panik tetapi masih waspada, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar agar tidak mengundang hewan liar datang ke permukiman warga.
Upaya Pencegahan dan Kesadaran Publik
Distan Banten, dalam upayanya mengurangi tingginya kasus gigitan hewan liar, juga telah meluncurkan berbagai program dan kampanye edukasi publik. Fokus primer dari kampanye ini adalah menaikkan pencerahan masyarakat tentang pentingnya vaksinasi rabies pada hewan peliharaan, serta langkah aman berinteraksi dengan hewan liar yang berpotensi menularkan penyakit. Promosi kesehatan melalui lokakarya, penyuluhan, dan distribusi materi informasi diharapkan dapat membangun pemahaman yang lebih bagus di masyarakat mengenai bagaimana menghindari risiko gigitan dan apa yang harus dilakukan kalau mengalami kejadian tersebut.
Selain itu, Dinas Pertanian Provinsi Banten juga bekerja sama dengan berbagai forum dan komunitas pemerhati satwa dalam usaha penanganan fauna liar dan penyebaran rabies. Pemantauan dan penangkapan hewan liar beresiko tinggi dilakukan secara berkala untuk mengurangi potensi risiko bagi masyarakat. “Pencegahan lebih bagus daripada mengobati, oleh karena itu kami berkomitmen penuh dalam mengurangi insiden ini dan meminta kolaborasi aktif dari masyarakat,” tambah drh. Ari Mardiana.
Peningkatan pencerahan, tindakan pencegahan yang efektif, dan respons lekas dari berbagai pihak merupakan kunci yang diharapkan akan menekan nomor laporan kasus gigitan fauna liar di Banten. Keberhasilan dari program-program ini tidak cuma akan melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat, namun juga membantu menjaga ekosistem satwa lokal agar tetap seimbang dan harmonis.



