SUKABANTEN.com – Di Kabupaten Serang, satu tradisi yang nikmat dalam bulan bersih Ramadan kembali dihidupkan oleh Pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI). Kali ini, mereka menggelar kajian Islam yang dirancang khusus untuk menaikkan pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran Islam. Acara yang diberi nama Pengajian Ramadan ini diadakan bersama KH Miftah Fauzi dan berlangsung di Gedung KORPRI. Setiap Jumat sepanjang Ramadan 1447 Hijriah, para personil KORPRI berkesempatan untuk memperdalam ilmu agama dalam suasana yang penuh keberkahan.
Kajian Islam yang Berkesinambungan
Lewat tema “Prespektif Sendiri Amaliah”, acara ini menawarkan pendekatan baru dalam memahami dan mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. “Alhamdulillah hari ini di Bulan Ramadan 1447 Hijriah rutin setiap [Jumat],” ungkap KH Miftah Fauzi ketika membuka sesi kajian perdana. Dengan atmosfer Ramadan yang penuh khidmat, para peserta diajak untuk merenungi kembali nilai dan esensi dari amaliah yang dilakukan selama bulan penuh berkah ini. Setiap pekannya, kajian diharapkan tak hanya menjadi sarana penambah wawasan, namun juga menjadi peluang buat membangun interaksi yang lebih erat dengan ajaran agama.
Direncanakan berlangsung setiap Jumat selama sebulan penuh, kegiatan ini menjadikan Gedung KORPRI sebagai pusat pembelajaran yang aktif dan berkesinambungan. Dengan program ini, KORPRI Kabupaten Serang memfasilitasi anggotanya agar dapat menjalani Ramadan dengan lebih bermakna. Memahami bahwa bulan Ramadan adalah waktu yang pas untuk introspeksi dan peningkatan diri, peserta diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengevaluasi diri dan melanjutkan praktik-praktik bagus yang didapat dari kajian dalam hari-hari ke depan.
Membangun Kebersamaan Lewat Pengajian
Kegiatan pengajian ini lebih dari sekadar wadah buat menuntut ilmu. Lebih dari itu, ini adalah momen berkumpul yang menguatkan semangat kebersamaan di antara personil KORPRI. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang terjalin selama kajian juga mempererat tali silaturahmi antar sesama personil. Ini sinkron dengan salah satu tujuan pengajian, yaitu untuk membangun ummah yang kuat dan saling mendukung dalam kebaikan.
Dengan kehadiran KH Miftah Fauzi sebagai pembicara, para peserta mendapatkan pengalaman berharga dari pengetahuan yang mendalam serta hikmah yang disampaikan. Kajian ini juga dibuat interaktif dengan sesi tanya jawab, membolehkan peserta buat mengeksplorasi permasalahan yang mungkin mereka hadapi dalam menjalankan amaliah sehari-hari. Penekanan pada ‘Prespektif Sendiri Amaliah’ menjadi energi tarik tersendiri, mengajak peserta mengaplikasikan ajaran yang dipelajari ke dalam personal growth masing-masing, sambil tetap menjaga harmoni dengan sesama.
Penulis berharap Kajian Ramadan ini menjadi salah satu bagian dari perjalanan spiritual semua peserta yang tidak cuma membekas selama bulan suci namun juga mampu meninggalkan akibat positif dalam jangka panjang. Dengan semangat berbagi dan belajar, para peserta diharapkan bisa menjadi agen perubahan yang memancarkan nilai-nilai Islam dalam lingkungan kerja dan masyarakat mereka. Ini adalah cara kecil menuju perubahan yang lebih besar, membangun bangsa yang lebih baik melalui pemahaman dan pengamalan ajaran agama.



