SUKABANTEN.com – Pada Minggu, 21 September 2025, lebih dari seratus manusia dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Banten, hingga Kediri dan Palembang, turut serta dalam acara Jelajah Jejak Multatuli yang berlangsung di Lebak. Acara ini menjadi bukti nyata bahwa gagasan-gagasan Multatuli, penulis buku populer “Max Havelaar”, tetap relevan dan memberikan inspirasi bagi banyak manusia dari berbagai latar belakang. Ubaidillah Muctar, selaku Kepala Museum yang terkait dengan kegiatan ini, menyerukan pentingnya memahami dan menghargai sejarah dalam konteks kekinian.
Menelusuri Warisan Budaya di Lebak
Kegiatan Jelajah Jejak Multatuli menyoroti pengaruh besar yang dimiliki oleh Multatuli dalam membangkitkan pencerahan sosial dan kritis di kalangan masyarakat. Partisipan diajak buat menelusuri berbagai lokasi yang memiliki sejarah signifikan terkait dengan perjuangan dan karya Multatuli. Dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah ini, peserta tidak cuma mendapatkan wawasan mengenai masa lampau, tetapi juga memahami bagaimana sejarah membentuk budaya dan nilai-nilai masyarakat ketika ini. Para peserta, yang terdiri dari berbagai kalangan usia dan profesi, tampak antusias mengikuti setiap sesi yang diadakan.
Lebih dari sekadar perjalanan wisata, acara ini menyediakan kesempatan bagi peserta buat mendalami aspek-aspek krusial dari sejarah dan bagaimana hal tersebut dapat memberi maksud dalam kehidupan mereka sehari-hari. “Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta dapat merasakan langsung akibat dari sejarah dan bagaimana mereka mampu berperan dalam menjaga dan melestarikannya,” ungkap Ubaidillah Muctar. Obrolan interaktif dan pertukaran ide di antara peserta menjadi salah satu momen berharga selama acara berlangsung.
Inspirasi dari Multatuli yang Tetap Hidup
Salah satu tujuan primer dari acara ini adalah untuk menghidupkan kembali semangat Multatuli dalam konteks modern. Ide-ide kritis yang disampaikan melalui karya “Max Havelaar” diyakini masih sangat relevan dalam menjawab tantangan di era sekarang. Multatuli, melalui karyanya, menyampaikan kritik tajam terhadap praktik kolonialisme dan penindasan, yang hingga kini tetap menjadi bahan refleksi krusial bagi banyak orang. “Kita menyantap bagaimana gagasan Multatuli memberikan kita pandangan baru tentang bagaimana sebuah masyarakat memilih jalan perjuangannya,” tambah Ubaidillah.
Acara ini juga berfungsi sebagai platform buat berbagi pengalaman dan pandangan mengenai isu-isu sosial dan politik yang dihadapi oleh masyarakat hari ini. Peserta didorong buat menggali lebih dalam arti perjuangan dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam perubahan positif di lingkungan mereka. Selain itu, kegiatan ini menjadi ajang membangun hubungan dan networking bagi mereka yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap sejarah dan sosial budaya.
Dengan semakin banyaknya orang yang terlibat dalam acara seperti Jelajah Jejak Multatuli, diharapkan kesadaran akan pentingnya memperingati dan mempelajari sejarah lokal meningkat. Program ini tidak hanya memperkuat rasa kebanggaan dan identitas sebagai porsi dari komunitas, namun juga menekankan pentingnya peran tiap individu dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai yang diwariskan oleh tokoh-tokoh besar seperti Multatuli.



