SUKABANTEN.com –
Memahami Isra’ Mi’raj Lebih Dalam
Peringatan Isra’ Mi’raj di Indonesia sering kali cuma menjadi ritual seremonial yang diisi dengan tausiyah normatif, semboyan moral, dan simbol kesalehan yang terulang setiap tahun. Sayangnya, peringatan ini berhenti pada sisi seremonial tanpa makna yang lebih dalam. Di lagi krisis publik yang semakin kompleks—seperti elitisme kekuasaan, teknokrasi tanpa nurani, dan kekeringan spiritual kolektif—Isra’ Mi’raj sebenarnya harus dibaca sebagai kritik teologis. Acara ini bukan sekadar tentang perayaan, melainkan semestinya juga tentang cerminan spiritual yang mendalam, sebuah momen buat meneliti ulang kondisi dan arah perjalanan bangsa kita.
Penulis Zaenal Abidin Syuja’i, seorang pengasuh pondok pesantren, menyoroti pentingnya memahami Isra’ Mi’raj lebih dari sekadar perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian ke Sidratul Muntaha. Ini adalah perjalanan spiritual yang seharusnya menginspirasi umat buat mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi. “Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan, tapi undangan buat berfikir dan bertindak kritis terhadap situasi sosial waktu ini,” ungkapnya. Momen spiritual ini seharusnya menjadi alas bagi umat dalam mengevaluasi kehidupan. Di tengah kemewahan dunia dan kekuasaan yang menggiurkan, kerap kali arti spiritualitas dilupakan.
Spirit Kritik dalam Tradisi
Tetapi, bagaimana sebenarnya peringatan Isra’ Mi’raj bisa menjadi alat kritik teologis atas elitisme dan teknokrasi? Hal ini dapat dimulai dari pemahaman bahwa spiritualitas bukan hanya perkara pribadi, melainkan juga sosial. Ketika kita merenungi perjalanan Isra’ Mi’raj, semestinya kita juga merenungkan perjalanan bangsa, ke mana hakikatnya kita berjalan sebagai masyarakat. Isra’ Mi’raj menuntun kita untuk menatap dan menyadari bahwa ada dimensi spiritual dalam setiap tindakan, termasuk dalam kebijakan politik yang sering kali jauh dari nilai-nilai spiritual.
Selain itu, cerminan atas Isra’ Mi’raj semestinya memicu pencerahan buat menghadapi elitisme yang kerap mengendalikan kekuasaan dengan mengabaikan bunyi rakyat. Ini menuntun pada tindakan nyata untuk berjuang melawan egoisme dalam kepemimpinan dan kebijakan. Ini adalah urgensi buat menyelaraskan prinsip-prinsip spiritualitas dengan etika publik. “Teknokrasi dan elitisme menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan dan nurani,” lanjut Zaenal. Ledakan teknologi dan perkembangan ekonomi seringkali justru menempatkan orang sebagai objek, bukan subjek yang seharusnya memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama.
Akhirnya, Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momen introspeksi bagi semua pihak. Apakah kebijakan dan tindakan kita telah sejalan dengan nilai-nilai spiritual? Apakah kita telah menghormati setiap individu sebagai makhluk yang memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Allah? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang harus dijawab dalam setiap peringatan Isra’ Mi’raj. Melalui pendekatan ini, Isra’ Mi’raj tak lagi hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi sebuah pergerakan spiritual yang mendorong perubahan sosial dan teologis.



