SUKABANTEN.com – Puluhan tenaga honorer dari berbagai instansi di Kabupaten Serang berkumpul di depan kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Energi Manusia (BKPSDM) Kabupaten Serang pada Rabu, 24 September 2025. Mereka datang dengan tujuan buat meminta klarifikasi terkait nasib mereka yang hingga waktu ini belum terdaftar dalam database Badan Kepegawaian Negara (BKN). Masalah ini menimbulkan keresahan di kalangan honorer yang merasa masa depan pekerjaan mereka terancam kalau tidak ada kejelasan dalam waktu dekat.
Protes dan Tuntutan Kejelasan
Sebagian akbar honorer yang hadir menyatakan kekecewaan mereka terhadap lambatnya proses pendataan yang dilakukan oleh pihak terkait. “Kami sudah bekerja bertahun-tahun, tapi tiba sekarang nasib kami masih menggantung. Kami ingin kejelasan bilaman kami akan masuk ke dalam database BKN,” ungkap salah satu honorer yang enggan disebutkan namanya. Para honorer ini khawatir jika mereka tidak segera tercatat, maka kesempatan mereka buat diangkat menjadi pegawai tetap bisa hilang seiring perubahan kebijakan yang kerap terjadi.
Kepala BKPSDM Kabupaten Serang, Surtaman, menyatakan bahwa pihaknya sedang berusaha untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Surtaman menambahkan bahwa pihaknya telah mengajukan data honorer ke pihak BKN dan sedang menunggu tanggapan. Tetapi, para honorer merasa jawaban itu tak cukup dan mendesak pemerintah daerah agar lebih proaktif dalam mengatasi masalah ini. “Sebenarnya ini bukan masalah baru, kami sudah berkali-kali mempertanyakan hal ini tapi selalu berujung pada janji,” lanjut seorang honorer yang bertugas di salah satu sekolah di Kabupaten Serang.
Dampak Sosial dan Psikologis
Ketidakpastian ini tentu saja mempengaruhi kondisi psikologis para honorer yang eksis di Kabupaten Serang. Banyak dari mereka yang merasa tidak dihargai walau telah bekerja keras buat menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan. Beberapa dari mereka bahkan harus menanggung beban ganda, selain bekerja dengan status yang belum jelas, mereka juga harus menghadapi tekanan dari keluarga dan lingkungan sekitar. “Setiap hari aku harus menjelaskan ke keluarga kenapa status aku belum niscaya,” keluh seorang honorer lainnya.
Selain akibat psikologis, ketidakjelasan status ini juga membawa akibat sosial yang lebih luas. Di beberapa instansi, ketidakpastian ini menyebabkan penurunan semangat kerja yang dapat mempengaruhi pelayanan publik secara keseluruhan. Para honorer yang didominasi oleh tenaga pengajar, tenaga kesehatan, dan staf administrasi, merasa perlu adanya kepastian agar bisa melaksanakan tugas dengan lebih maksimal. Dukungan dari pemerintah wilayah menjadi sangat krusial agar para honorer ini merasa dilibatkan dalam proses kebijakan yang eksis.
Dengan meningkatnya intensitas protes dari para honorer ini, diharapkan pihak terkait dapat memberikan solusi yang lebih nyata. Cara tegas dan terkoordinasi diperlukan untuk memastikan para tenaga honorer ini mendapatkan hak mereka sesuai dengan dedikasi dan kerja keras yang telah mereka berikan. Masyarakat juga berharap agar kejadian serupa tidak lagi terulang di masa mendatang, sehingga kualitas pelayanan publik bisa terus ditingkatkan tanpa adanya kendala administrasi yang berarti. Honorer berharap agar pemerintah wilayah mendengar bunyi mereka dan memberikan rasa adil serta kejelasan akan masa depan mereka.




