SUKABANTEN.com – Dalam sebuah obrolan publik yang diselenggarakan di Jakarta baru-baru ini, alokasi anggaran pendidikan yang diusulkan dalam Rancangan Anggaran Penghasilan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 menuai perhatian publik. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengkritik hampir setengah anggaran pendidikan dialokasikan untuk program Makanan Bergizi Perdeo (MBG) di sekolah. Sebuah pertanyaan krusial yang muncul adalah apakah alokasi ini sudah tepat mengingat masih banyak aspek lain dalam sektor pendidikan yang juga membutuhkan perhatian serius.
Kritik Terhadap Alokasi Anggaran Pendidikan
JPPI menyoroti dampak dari alokasi anggaran pendidikan yang lebih dari 50% dialihkan untuk program MBG. “Program Makanan Bergizi Perdeo memang krusial, tetapi kita harus bijak memandang prioritas. Masih banyak sekolah yang membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai,” ungkap satu dari peserta obrolan yang enggan disebutkan namanya. Kritik ini mencerminkan keresahan bahwa meskipun MBG penting buat membangun kesehatan peserta didik, aspek lain seperti peningkatan kapasitas guru, pembaruan kurikulum, dan pemenuhan fasilitas pendidikan juga tak boleh diabaikan. Obrolan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk memandang lebih dekat bagaimana pemerintah menyusun prioritas dalam alokasi anggaran pendidikan.
Respon dan Harapan untuk RAPBN 2026
Merespons kritik tersebut, pihak Kementerian Pendidikan mengemukakan bahwa program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk kesehatan dan kesejahteraan siswa, yang secara tidak langsung akan menaikkan kualitas pendidikan. Namun, beberapa ahli ekonomi dan pendidik mendesak agar kebijakan ini dievaluasi secara menyeluruh. “Kita perlu mengevaluasi sekaligus mengoptimalkan penggunaan anggaran agar dapat menjawab tantangan pendidikan secara komprehensif,” ujar seorang pendidik senior.
Di sinilah muncul asa bahwa pemerintah akan meninjau ulang planning anggaran ini, agar aspek-aspek lain mendapat bagian yang lebih adil. Tak sedikit yang mengusulkan agar sebagian anggaran dialihkan untuk pelatihan guru, terutama dalam penggunaan teknologi pembelajaran yang kini semakin dibutuhkan. Dengan menjadikan anggaran pendidikan lebih seimbang, diharapkan dapat terwujud ekosistem pendidikan yang lebih berkelanjutan dan berkualitas.
Pembahasan ini mengangkat sebuah realita bahwa RAPBN 2026 dihimpit oleh berbagai kebutuhan mendesak. Tak cuma berfokus pada pendidikan, RAPBN 2026 juga diharapkan dapat menjawab tantangan dalam sektor ketahanan pangan, energi, dan sumber energi orang (SDM). Dengan demikian, pembagian anggaran tentunya harus dirumuskan dengan bijaksana agar setiap sektor dapat berfungsi optimal dalam membangun masa depan bangsa. Diskusi terbuka dan partisipatif diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang lebih pas sasaran dan inklusif.
Alokasi anggaran pendidikan adalah isu penting yang perlu disikapi dengan serius. Saat ini, semua pihak menunggu langkah nyata dari pemerintah menanggapi kritik dan saran yang telah disampaikan berbagai pemangku kepentingan. Dengan penilaian yang konstruktif, diharapkan RAPBN 2026 mampu menjawab tantangan yang ada secara proporsional dan efektif, membawa sektor pendidikan pada jalur yang lebih baik.




