SUKABANTEN.com – Baru-baru ini, sebuah video viral yang menampilkan Habiburokhman tengah memasak mie instan menggunakan gas melon mendapatkan perhatian akbar masyarakat. Tidak ayal, video tersebut menjadi sorotan banyak pihak karena dianggap menimbulkan kontroversi. Bagaimana tidak, gas melon atau LPG 3 kg yang digunakan oleh Habiburokhman merupakan jenis gas yang diperuntukkan untuk kalangan masyarakat menengah ke rendah. Oleh sebab itu, banyak pihak yang kemudian mempertanyakan dalih dan arti dari tindakan tersebut.
Reaksi Masyarakat Terhadap Video Viral
Video yang diunggah di salah satu platform media sosial ini lekas menyebar luas dan memancing berbagai corak reaksi dari publik. Sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa penggunaan gas melon oleh seseorang dengan status dan pendapatan di atas rata-rata seperti Habiburokhman bisa jadi menyinggung kalangan masyarakat yang semestinya lebih berhak menggunakan fasilitas pemerintah tersebut. Di sisi lain, ada juga netizen yang menganggap aksi tersebut sebagai hal yang tidak perlu dibesar-besarkan, mengingat video tersebut mungkin saja tak dimaksudkan buat tujuan yang negatif.
Menurut beberapa pengamat sosial, fenomena ini mengindikasikan adanya kesenjangan persepsi antara masyarakat dan tokoh publik. “Ketika seseorang yang dianggap memiliki pengaruh melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pandangan generik, maka akan timbul ketidaksepakatan,” ujar seorang pengamat. Sejatinya, video seperti ini menjadi pemicu bagi publik buat lebih kritis dalam memandang tindakan tokoh-tokoh publik.
Klarifikasi dari Habiburokhman
Merespons polemik yang terjadi, Habiburokhman memberikan klarifikasi terkait dengan video tersebut. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa penggunaan gas melon dalam video itu bukanlah untuk tujuan eksklusif yang menyinggung kalangan eksklusif. “Saya hanya memasak mie, dan kebetulan gas yang tersedia pada waktu itu adalah LPG 3 kg,” ujar Habiburokhman mencoba meredakan situasi.
Penjelasan ini diharapkan dapat menenangkan perdebatan yang terjadi di masyarakat. Habiburokhman juga menambahkan bahwa tak eksis niat sedikitpun untuk menyinggung ataupun mengambil hak masyarakat yang berhak mendapatkan LPG 3 kg. “Saya memahami bagaimana sensitivitas isu ini bagi masyarakat dan tak ada makna lain kecuali memasak mie,” tegasnya.
Kejadian ini memberikan pelajaran bagi seluruh pihak bahwa tindakan yang diambil, apalagi oleh sosok yang dikenal publik, akan selalu mendapatkan perhatian lebih. Perlu adanya kehati-hatian dan pencerahan dari setiap individu dalam memilih dan menentukan tindakan, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dan hak-hak masyarakat luas, agar tak menuai kritik negatif di kemudian hari.




