SUKABANTEN.com – Di lagi semarak seremoni Hari Lahir (Harlah) Perkumpulan Guru Inpassing Nasional (PGIN) yang ke-8, ratusan guru madrasah dari berbagai penjuru nusantara berkumpul buat menyuarakan tuntutan krusial mereka. Bertempat di Asrama Haji Donohudan (AHD), Boyolali, Rabu, 4 Februari 2026, acara Harlah ini menjadi titik temu bagi para guru yang berharap kepada pemerintah terkait pengangkatan mereka menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Partisipasi luas dari perwakilan setiap wilayah, termasuk dari Pandeglang, memantapkan momentum ini sebagai manifestasi bunyi para pendidik yang ingin perubahan signifikan dalam status pekerjaan mereka.
Tuntutan Pengangkatan Sejalan dengan Peningkatan Kualitas Pendidikan
Keputusan untuk mengangkat tuntutan menjadi PPPK bukan sekadar ambisi, tetapi didasarkan pada keinginan kuat untuk menaikkan kualitas pendidikan di madrasah. Guru inpassing, yang selama ini berstatus honorer, memegang peran krusial dalam mengajar dan membimbing siswa di berbagai daerah, khususnya di wilayah terpencil. Namun, status sebagai tenaga honorer sering kali membuat mereka menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi kesejahteraan maupun peluang pengembangan profesional.
Menurut salah satu perwakilan guru dari Pandeglang, “Kesejahteraan guru merupakan unsur utama yang mendukung peningkatan mutu pendidikan. Dengan status PPPK, guru akan lebih konsentrasi pada pengembangan kurikulum dan pembelajaran tanpa terbebani oleh masalah finansial.” Seruan dari para guru ini mencerminkan asa untuk mendapatkan perhatian penuh dari Kementerian Religi, yang diharapkan dapat membuka peluang bagi pengangkatan inpassing menjadi PPPK sebagai wujud apresiasi atas dedikasi mereka.
Persatuan Guru untuk Perubahan Kebijakan
Persatuan dalam aksi tuntutan ini menunjukkan bahwa para guru inpassing tak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga menyadari pentingnya perubahan kebijakan buat kemajuan sistem pendidikan secara keseluruhan. Soliditas ini terlihat dari kehadiran masif para guru inpassing yang diamini oleh seluruh peserta Harlah PGIN. “Ini bukan hanya tentang status kerja, namun juga mengenai pengakuan dan kesejahteraan yang pantas bagi setiap guru,” tutur salah satu peserta.
Gelombang tuntutan ini dianggap menjadi ujian bagi Kementerian Religi dalam menjawab aspirasi para tenaga pendidik. Penantian akan tanggapan dan langkah konkret dari pihak berwenang kini menjadi asa seluruh pihak yang terlibat. Para guru berharap agar upaya yang mereka lakukan melalui aksi damai dan terkoordinasi ini membuahkan hasil nyata yang dapat dirasakan secara langsung dalam saat dekat.
Dengan cara kebersamaan ini, para guru inpassing berharap perubahan fundamental dapat terwujud, membawa akibat positif tak hanya bagi kehidupan mereka namun juga bagi penghasilan siswa didik mereka di masa depan. Asa akbar menggema agar Kementerian Agama segera menyikapi dan merespon tuntutan ini demi terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih unggul dan berdaya saing tinggi.



