SUKABANTEN.com – Dalam sebuah obrolan yang diadakan di Tangerang Selatan, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, mengemukakan urgensi pelembagaan Pancasila melalui undang-undang agar tak cuma menjadi retorika politik belaka. Tholabi berpendapat bahwa langkah strategis seperti pembentukan Undang-Undang Pembinaan Ideologi Pancasila diperlukan untuk memastikan Pancasila terintegrasi secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan bangsa ini. Menurutnya, “Pancasila bukan sekadar teks historis atau jargon politik. Pancasila adalah jiwa bangsa yang mesti diarusutamakan dalam kebijakan publik, pendidikan, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.”
Pancasila Sebagai Fondasi Kebijakan Publik
Dalam obrolan tersebut, Tholabi menekankan pentingnya mengarusutamakan nilai-nilai Pancasila dalam kebijakan publik. Hal ini diperlukan agar setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah tidak hanya harmoni dengan semangat kebangsaan tetapi juga memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional. “Ketika Pancasila menjadi bagian dari roh kebijakan publik, maka pengimplementasiannya akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” ujar Tholabi. Menurutnya, tanpa adanya landasan hukum yang kuat, pelembagaan Pancasila berisiko hanya menjadi slogan tanpa substansi yang jelas dalam praktek pemerintahan.
Tholabi menyoroti sejumlah kebijakan publik yang selama ini dianggap tak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Ia mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah hingga masyarakat luas, untuk bersama-sama mengupayakan agar Pancasila hadir dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan. Dalam pandangannya, UU Pembinaan Ideologi Pancasila harus bisa memberikan pedoman praktis sekaligus mengikat setiap level pemerintahan buat tetap berpegang kukuh pada lima sila yang menjadi alas negara Indonesia.
Peran Pendidikan dalam Menanamkan Ideologi Pancasila
Selain memberikan perhatian khusus pada kebijakan publik, Tholabi juga menekankan peranan penting pendidikan dalam menanamkan ideologi Pancasila kepada generasi muda. Menurutnya, pendidikan merupakan wahana paling efektif untuk menyemai pemahaman mendalam mengenai Pancasila sebagai dasar negara. “Kita memerlukan kurikulum yang tak hanya memberikan pengetahuan teoritis, namun juga mendorong pelaksanaan konkret dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Tholabi juga berharap agar forum pendidikan dapat mengintegrasikan pendidikan Pancasila dengan metode yang lebih inovatif dan menyenangkan sehingga mampu memikat minat siswa. Ia percaya bahwa pendekatan pembelajaran yang menarik akan membuat pelajar lebih memahami dan mengapresiasi kedalaman ideologi Pancasila. Dengan demikian, nilai-nilai kebhinekaan dan solidaritas nasional yang terkandung dalam Pancasila dapat tercermin dalam tindakan dan perilaku generasi masa depan.
Di akhir obrolan, Tholabi mengajak seluruh pihak buat bersinergi demi mewujudkan pelembagaan Pancasila yang holistik. Menurutnya, keberhasilan memasukkan Pancasila ke dalam jantung kebijakan publik dan sistem pendidikan membutuhkan komitmen kuat dari berbagai pihak. “Pancasila adalah warisan bangsa. Sudah sepatutnya kita menjaganya dengan sepenuh hati,” pungkas Tholabi. Obrolan tersebut mendapati tanggapan positif dari peserta yang sepakat bahwa cara nyata harus segera diambil agar Pancasila dapat lanjut relevan dan menjadi pedoman hayati bagi semua rakyat Indonesia.




