SUKABANTEN.com – Di kota Serang, ajang Sultan Jawara Law Festival (SJLF) II diselenggarakan bukan cuma sebagai kompetisi akademik semata, namun juga sebagai platform krusial bagi mahasiswa hukum untuk mengasah kemampuan kepemimpinan mereka. Festival ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk unjuk kemampuan, bagus dalam berargumentasi maupun dalam melahirkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi konkret bagi masyarakat. Dalam kesempatan ini, Dekan Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Ferry Fathurokhman, menjelaskan bahwa tujuan utama dari festival ini adalah buat membangun generasi mahasiswa hukum yang tidak hanya kritis dalam berpikir namun juga visioner dalam bertindak. Hal ini sejalan dengan visi Fakultas Hukum Untirta untuk mencetak lulusan yang bisa menghadapi tantangan hukum yang kian kompleks di masa mendatang.
Pentingnya Kepemimpinan Mahasiswa Hukum
Kepemimpinan merupakan kualitas krusial yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa hukum agar dapat berperan aktif dalam dinamika sosial dan hukum yang terus berkembang. Melalui Sultan Jawara Law Festival II, mahasiswa tak hanya diuji kemampuan logika hukumnya, tetapi juga ketajaman dalam memimpin dan menyuarakan ide-ide yang konstruktif. Menurut Ferry Fathurokhman, “Tanpa adanya karakter kepemimpinan yang kuat, sangat sulit bagi mahasiswa buat dapat berinovasi dan memberikan pengaruh positif di lingkungan sekitarnya, bagus di kampus maupun di masyarakat.” Oleh sebab itu, melalui acara ini, mahasiswa diharapkan dapat menemukan dan mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimiliki sehingga mereka siap menjadi pemimpin masa depan yang tangguh dan berintegritas.
Selain itu, festival ini juga bertujuan buat memperkuat jaringan antara mahasiswa hukum dari berbagai universitas. Interaksi dan kolaborasi yang terjalin selama festival berlangsung dapat memperkaya wawasan dan pengalaman mereka. Dengan majemuk kegiatan yang melibatkan obrolan hukum dan simulasi pengadilan, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga yang nantinya dapat diterapkan dalam internasional professional. “Kegiatan seperti ini sangat penting buat memperkaya pengalaman mahasiswa dalam menghadapi situasi nyata di internasional hukum, sehingga mereka tak cuma teori saja tetapi juga praktek,” tambah Ferry.
Membangun Mahasiswa Kritis dan Visioner
Kegiatan Sultan Jawara Law Festival II tak tanggal dari usaha Fakultas Hukum Untirta untuk mendorong mahasiswanya agar mempunyai pandangan yang lebih kritis terhadap isu-isu hukum yang eksis di Indonesia. Dalam konteks ini, kritis berarti tak hanya mampu mengidentifikasi permasalahan hukum yang ada, tetapi juga dapat menawarkan solusi inovatif yang dapat diimplementasikan. Hal ini penting sebab, “Mahasiswa hukum harus dapat berpikir di luar kotak agar bisa memberikan solusi hukum yang tak hanya teoritis tetapi juga praktis dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Ferry Fathurokhman.
Festival ini juga menekankan pentingnya visi dalam pengembangan karir hukum. Mahasiswa harus memiliki visi yang jernih tentang bagaimana mereka mau berkontribusi dalam bidang hukum setelah lulus nanti. “Visinya harus melampaui pandangan jangka pendek dan lebih kepada bagaimana menciptakan sistem hukum yang lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” lanjutnya. Oleh karena itu, kegiatan seperti debat, presentasi hukum, dan sesi mentoring yang diadakan selama festival ini dirancang buat menantang mahasiswa agar berpikir lebih jauh tentang peran mereka di masa depan.
Secara keseluruhan, Sultan Jawara Law Festival II menjadi momentum krusial bagi Fakultas Hukum Untirta dalam upayanya buat mencetak lulusan yang tidak cuma mempunyai kompetensi akademik tetapi juga jiwa kepemimpinan yang kuat. Melalui festival ini, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi diri dan mengasah berbagai keterampilan yang esensial bagi karir mereka di lalu hari. Harapannya, lulusan Fakultas Hukum Untirta kelak tidak cuma menjadi praktisi hukum yang handal, tetapi juga pemimpin yang bisa membawa perubahan positif dalam sistem hukum Indonesia.




