SUKABANTEN.com – Pendekatan baru dalam internasional kefarmasian semakin hari kian berkembang pesat, salah satunya adalah metode EMESYS yang ketika ini menjadi perhatian dalam mendampingi pasien skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis yang memengaruhi langkah berpikir, merasa, dan berperilaku seseorang. Dibutuhkan pendampingan spesifik bagi pasien skizofrenia agar dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih bagus. Universitas Airlangga menghadirkan sebuah pendekatan baru melalui EMESYS yang bertujuan buat menaikkan peran apoteker dalam memberikan pelayanan kepada pasien skizofrenia.
Apa Itu EMESYS?
EMESYS merupakan singkatan dari “Empowerment, Medication, Education, Systematization”, yang dalam bahasa Indonesia berarti Pemberdayaan, Medikasi, Edukasi, dan Sistematisasi. Metode ini dirancang buat memberikan pendekatan komprehensif bagi pasien skizofrenia, mengingat gangguan ini membutuhkan pendekatan multidimensi. EMESYS menekankan pada pemberdayaan pasien dan keluarga mereka. “Pasien bukanlah sekadar penerima pasif dari pelayanan kesehatan. Mereka memiliki hak dan bahkan kewajiban buat terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pengobatan mereka,” ujar Prof. Dr. Rifana Afriani, salah satu pengembang metode ini.
Hal lain yang ditekankan dalam EMESYS adalah medikasi yang pas. Skizofrenia sering kali diatasi dengan medikasi jangka panjang, dan di sinilah peran apoteker menjadi sangat krusial. Apoteker bertugas memastikan bahwa medikasi yang diberikan tak cuma pas namun juga aman bagi pasien. Dengan adanya sistem ini, apoteker dapat memantau reaksi dan perkembangan pasien secara berkala. Dr. Rifana menambahkan, “Kemampuan apoteker buat menilai dan memodifikasi pengobatan adalah bagian integral dari EMESYS.”
Peran Edukasi dalam Pendampingan
Edukasi adalah elemen penting dalam EMESYS, tidak cuma ditujukan untuk pasien namun juga keluarga dan masyarakat sekitar. Melalui edukasi yang bagus, diharapkan kesadaran akan gangguan mental seperti skizofrenia bisa meningkat. Contoh, keluarga dapat diajarkan tentang gejala skizofrenia, efek samping dari obat-obatan, hingga bagaimana mendukung anggota keluarga yang mengalami gangguan tersebut dengan lebih efektif. “Edukasi bisa menjadi jembatan antara teori dan praktik di lapangan,” jernih Dr. Rifana.
Selain itu, sistematisasi dalam pelayanan juga menjadi unsur kunci dalam metode EMESYS. Pendampingan pasien harus terstruktur dengan baik dan terukur. Hal ini mampu dilakukan dengan menggunakan teknologi yang ada, seperti aplikasi khusus buat pencatatan perkembangan pasien. Dengan pendekatan ini, kemungkinan adanya kesalahan dalam pelayanan dapat dikurangi. Ini juga memungkinkan tim kesehatan buat lebih efisien dalam menangani lebih banyak pasien dengan sumber daya yang tersedia.
Dalam penerapannya, EMESYS telah menunjukkan hasil yang positif pada sejumlah pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga dan beberapa klinik relasi. “Keberhasilan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan dan menyempurnakan metode ini,” kata Dr. Rifana dengan optimis. Diharapkan dengan semakin meluasnya penerapan EMESYS, kualitas hayati pasien skizofrenia dapat meningkat secara signifikan.
Secara keseluruhan, inovasi dalam pelayanan kesehatan, seperti EMESYS, memberikan asa baru bagi penderita skizofrenia dan keluarga mereka. Hal ini juga menggarisbawahi pentingnya kerjasama lintas disiplin dalam penanganan gangguan mental. Dengan adanya pendekatan yang berfokus pada pemberdayaan, medikasi, edukasi, dan sistematisasi, EMESYS siap menjadi standar baru dalam pendampingan pasien skizofrenia di Indonesia.



