SUKABANTEN.com – Penutupan Sementara Dua Dapur SPPG di Lebak
LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Di lagi usaha peningkatan kesehatan masyarakat melalui program makanan bergizi, Kabupaten Lebak menghadapi kendala biaya yang menyebabkan penutupan fana dua dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Keputusan ini mulai berlaku pada Jumat, 14 November 2025, efek keterlambatan biaya dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum tersalurkan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, menjelaskan bahwa penutupan dapur yang berada di bawah pengawasan BGN ini cuma bersifat sementara. Menurut Asep, dapur yang ditutup akan kembali beroperasi begitu biaya yang dibutuhkan tersedia. Keputusan ini tentunya mempengaruhi operasional dapur yang selama ini menjadi tulang punggung dalam menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa penutupan dua dapur ini berpotensi meningkatkan risiko kurang gizi di Kabupaten Lebak. Tanpa dapur ini, banyak penduduk yang sebelumnya bergantung pada program MBG kini harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Asep Royani menegaskan bahwa penutupan ini diambil sebagai usaha manajerial sambil menunggu kejelasan anggaran dari pihak terkait. “Kami berharap masyarakat bersabar, dan berharap pemerintah segera menyalurkan dana agar pelayanan bisa kembali berjalan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa BGN berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa program pemenuhan gizi masih menjadi prioritas demi kesehatan masyarakat Lebak.
Akibat dan Asa Masyarakat Akan Pemenuhan Gizi
Dalam situasi ini, masyarakat Lebak tentunya berharap agar pemerintah wilayah segera mengatasi kendala dana ini. Keterlambatan penyaluran biaya tidak hanya berdampak pada operasional dapur SPPG, namun juga menghambat program jangka panjang pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi buruk di daerah tersebut. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung peningkatan gizi masyarakat harus beroperasi kembali agar tidak terjadi lonjakan angka kurang gizi, terutama di kalangan anak usia dini yang membutuhkan asupan gizi lebih.
Peran serta masyarakat dalam memberikan dukungan dan supervisi terhadap agar program ini lanjut berjalan sangatlah krusial. Usaha kolaboratif antara pemerintah, BGN, dan komunitas lokal diharapkan dapat menemukan solusi jangka panjang terhadap masalah pendanaan ini. Harapan ini diperkuat dengan komitmen Asep Royani yang menyatakan bahwa pihak BGN akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk mengembalikan kelancaran operasional dapur SPPG secepat mungkin. “Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini, agar program pemenuhan gizi dapat lanjut berjalan dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat kita,” jernih Asep.
Secara keseluruhan, penutupan fana dua dapur SPPG di Kabupaten Lebak merupakan pengingat akan pentingnya alokasi dana yang pas waktu dan efisien untuk program sosial yang berorientasi pada kesehatan publik. Sebagai pelayan masyarakat, instansi terkait harus dapat menanggapi situasi ini dengan segera, mengingat keberlanjutan layanan gizi memiliki implikasi jangka panjang terhadap kualitas hayati penduduk Lebak. Adapun masyarakat diharapkan dapat tetap bersabar dan terus mendukung melalui cara-cara yang positif hingga permasalahan tersebut dapat teratasi. Patut diingat bahwa setiap krisis membawa peluang untuk perbaikan sistem yang lebih bagus dan berkelanjutan di masa depan.



