SUKABANTEN.com – Hujan deras yang mengguyur daerah Kampung Cipurun, Desa Situregen, Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak selama semalam penuh telah menimbulkan banjir yang merendam ratusan rumah. Kondisi ini diperparah dengan tak berfungsinya sistem irigasi pertanian dengan bagus. Peristiwa ini terjadi pada Jumat pagi, 24 Oktober 2025, menyusul hujan deras yang sudah turun sejak Kamis malam, 23 Oktober 2025. Herdi, seorang relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Wilayah (BPBD) Kecamatan Panggarangan, melaporkan bahwa hujan dimulai sejak magrib pada hari sebelumnya. “Hujan dari kemarin magrib,” katanya, menandai awal dari bencana banjir tersebut.
Akibat Banjir Terhadap Penduduk
Banjir ini telah menyebabkan genangan air setinggi satu meter yang merendam rumah-rumah warga di daerah tersebut. Peristiwa ini membawa efek signifikan terhadap aktivitas harian warga setempat, terutama bagi mereka yang rumahnya terendam air. Banyak penduduk terpaksa mengungsi ke loka yang lebih kondusif, sementara beberapa lainnya memilih tinggal di lantai dua rumah mereka yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan lebih terus. Penduduk yang terdampak banjir sangat berharap bahwa bantuan dari pemerintah daerah maupun lembaga-lembaga relawan segera datang buat meringankan beban mereka.
Tak hanya rumah, banjir juga merendam lahan pertanian dan akses jalan dalam kampung, membuat aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari terganggu. Efek ini khususnya dirasakan oleh para petani yang harus menghadapi kerugian efek kerusakan flora. Kondisi infrastruktur yang kurang memadai, termasuk tidak berfungsinya irigasi pertanian, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir ini. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian serius dan penanganan yang lebih baik dalam pengelolaan infrastruktur serta sistem irigasi di wilayah rawan banjir seperti ini.
Usaha dan Tanggapan Pihak Berwenang
Merespons kondisi gawat ini, pemerintah setempat bekerjasama dengan BPBD dan relawan, segera melakukan upaya-upaya penanggulangan agar kerugian tak semakin meluas. Posko-posko gawat telah didirikan di beberapa titik strategis untuk menampung warga yang mengungsi. BPBD juga aktif dalam menyalurkan donasi berupa makanan dan kebutuhan alas bagi para korban banjir. Selain itu, dilakukan pula evakuasi bagi penduduk yang terjebak di dalam rumah mereka efek tingginya air yang tidak kunjung surut.
Herdi dan tim relawan BPBD terus memantau perkembangan situasi terkini, seraya mengingatkan penduduk sekeliling untuk lanjut waspada apabila hujan kembali turun. Herdi menambahkan, “Kita harus masih waspada dan siap siaga. Bantuan terus dikoordinasikan.” Meski demikian, tantangan yang terbesar adalah memastikan bahwa infrastruktur penahan banjir dipulihkan dan diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Pada akhirnya, bencana banjir ini menjadi pengingat kuat akan pentingnya pemeliharaan infrastruktur dan keberlanjutan sistem irigasi yang bagus untuk mencegah akibat buruk efek cuaca ekstrem. Seiring perubahan iklim yang menyebabkan formasi cuaca semakin sulit diprediksi, berbagai pihak harus lebih proaktif dalam mengambil langkah-langkah pencegahan dan mitigasi agar keselamatan dan keamanan penduduk dapat terjamin.




