SUKABANTEN.com – Situasi banjir di Kabupaten Pandeglang kembali menjadi sorotan setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang mencatat bahwa 422 rumah di empat kampung di Desa Idaman, Kecamatan Patia, terendam air dengan ketinggian mencapai 20-50 sentimeter. Banjir ini disebabkan oleh meluapnya Sungai Cilemer yang membawa akibat langsung terhadap Kampung Tajur, Kampung Karangtengah, Kampung Sindangrahayu, dan Kampung Tongkol. Kondisi ini memaksa penduduk buat berjaga-jaga dan melakukan evakuasi harta benda ke loka yang lebih aman, sembari menunggu situasi kembali normal.
Penyebab dan Efek Meluapnya Sungai Cilemer
Banjir yang melanda Desa Idaman di Kecamatan Patia ini bukanlah peristiwa baru. Setiap musim hujan, daerah ini selalu menghadapi risiko banjir dampak meluapnya Sungai Cilemer. Sungai ini memiliki sejarah panjang terkait luapannya yang kerap menyebabkan banjir di daerah sekitarnya. Penyebab utama meluapnya Sungai Cilemer adalah intensitas hujan yang meningkat drastis dan berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Selain itu, degradasi lingkungan, seperti penebangan pohon di daerah hulu dan penimbunan yang tak terkontrol, juga memperburuk kemampuan alami tanah buat menyerap air hujan.
Menurut pengakuan salah seorang warga Kampung Tajur, “Kami harus selalu waspada setiap datangnya musim hujan. Banjir membuat kami tak tenang apalagi melihat air perlahan mendekati ambang batas rumah setiap kali hujan deras datang.” Efek dari banjir ini tak cuma merendam rumah warga tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari pekerjaan hingga sekolah. Anak-anak terpaksa libur karena jalanan tak mampu dilalui sementara para pekerja harus berusaha ekstra mencari jalan lain untuk menuju loka kerja.
Usaha Penanggulangan dan Donasi BPBDPK
Menanggapi banjir yang melanda, BPBDPK Kabupaten Pandeglang dinamis lekas untuk menyiapkan bantuan logistik. “Kami berkomitmen buat segera menyalurkan bantuan kepada penduduk yang terkena dampak musibah ini,” ujar Kepala BPBDPK. Bantuan berupa logistik seperti makanan, air bersih, dan kebutuhan lantai lainnya segera didistribusikan ke lokasi banjir. Selain itu, tim BPBDPK juga menyiagakan personel buat membantu evakuasi penduduk yang rumahnya terendam.
Langkah mitigasi juga telah diambil, termasuk mengadakan patroli rutin untuk memantau perkembangan ketinggian air di Sungai Cilemer dan titik-titik rawan banjir lainnya. Selain usaha tanggap gawat, BPBDPK juga berencana mengadakan sosialisasi kepada warga mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekitar, terutama hulu sungai, guna mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Pendidikan dan penyuluhan mengenai manajemen risiko bencana turut serta dimasukkan ke dalam program kerja BPBDPK untuk meningkatkan pencerahan penduduk dalam menghadapi kondisi darurat.
Dengan cara lekas yang diambil oleh pemerintah setempat dan kerjasama warga dalam menghadapi situasi ini, diharapkan banjir tidak membawa akibat yang lebih parah dan masyarakat dapat kembali beraktivitas biasa. Asa ke depan, pencerahan lingkungan dan pengelolaan sumber daya air diperhatikan lebih serius guna mencegah banjir serupa di masa yang akan datang.



